Senin, 23 Agustus 2010

renungan lansia - 4 "ketika sulit untuk memberi"

PERSEKUTUAN USINDA
GKI CITRA I
Jumat, 13 Agustus 2010
Pk. 16.00
Ketika Sulit untuk Memberi
FT: II Korintus 9:6-8


Pembukaan:

§  Siapa di antara kita yang belum atau tidak pernah memberi? Pasti tidak ada ya! Kita semua tentu pernah memberi --> paling sederhana: memberikan persembahan untuk pekerjaan Tuhan, memberikan pertolongan bagi yang membutuhkan, memberi sesuatu untuk anak, cucu, mantu --> memberi hal lainnya. Apa saja yang diberi? Macam-macam. Bisa uang, barang, materi lain...namun tidak hanya terbatas pada hal tersebut, melainkan lebih luas. Bisa memberi kasih, pertolongan, dll.

§  Intinya : setiap kita pernah memberi. Hanya saja bagaimana kita memberi (cara kita) itu berbeda-beda. Realitas yang umum menyatakan ada 3 cara memberi. Ada yang memberi karena a) ada pamrih terselubung. Ada juga yang memberi karena b) terpaksa. Tapi ada juga yang memberi karena c) ketulusan hati dan ekspresi kasih.

§  Ini seperti sebuah ilustrasi tiga macam pemberi. Tipe pemberi 1) batu api, 2) spon dan 3) sarang lebah. Pertama: batu api. Untuk mendapatkan si batu api, seseorang harus menghantam dia. Walau sudah dihantam, biasanya orang tersebut hanya mendapat sedikit serpihan dan percikan bunga api. Pelit untuk memberi. Kalau pun mau memberi itu selalu dengan pertunjukan besar-besaran. Pemberi macam ini akan selalu menuntut kalau namanya harus diumumkan dan berharap semua orang tahu.

§  Ada si spon. Untuk mendapatkan sesuatu dari si spon, seseorang harus memerasnya lebih dulu, kalau perlu dengan aksi mengancam segala. Barulah si spon mau memberi. Memberi karena terpaksa. Memberi bukan dari hati. Itu kurang lebih penggambaran dari spon.

§  Yang terakhir adalah pemberi tipe sarang lebah. Sarang lebah senang memberi, tanpa tekanan dan tanpa harus menunggu lebih dulu seseorang merengek-rengek kepadanya. Dia membiarkan madu yang dihasilkan terus mengalir agar orang yang sedang membutuhkannya bisa mendapatkannya. Uniknya, sarang lebah tidak akan pernah kehabisan. Ia akan selalu memberi, memberi dan selalu ada saja madu yang diberikannya, seolah tidak ada habisnya.
Arti cerita:

§  Ilustrasi ini menjadi sebuah penggambaran bagaimana seseorang memberi. Yang idealnya : memang kita menjadi seperti tipe sarang lebah yang dengan penuh kesediaan diri senantiasa memberi yang terbaik. Namun sungguh disayangkan. Ternyata dalam praktik kehidupan kita à seringkali ada di antara kita yang sulit untuk memberi. Kita kerapkali memberi dengan tipe seperti batu api atau mungkin tipe spon. Memberi karena tekanan, memberi namun di dalam hati ngedumel, ngga rela, pelit, tidak dari hati. Itu ditemui dalam realitas kehidupan kita.  

§  Based on true story : Saya pernah mengalami hal ini saudara. Ketika di suatu tempat A.... ada seorang yang memberikan sesuatu untuk saya. Sudah ada di dalam plastik. Namun ketika saya buka, ternyata itu adalah barang-barang bekas yang sudah tidak layak pakai. Saya ingat betul dia memberi saya tas yang sudah sobek di sana-sini. Sudah tidak layak pakai. Tentu saja bukan perkara barangnya yang utama, namun ketika menghadapi peristiwa tersebut saya sedih karena kok sepertinya tidak rela... lebih baik tidak usah sekalian daripada memberi namun yang memang sudah tidak layak pakai.  

§  Tema kita hari ini mengatakan demikian. ”Ketika sulit untuk memberi”. Dari tema ini --> Pertanyaan à Umumnya ketika kapan kita sulit memberi?

1.    1. Ketika ada ketidakrelaan dari dalam diri. Saya mau ngasih sih..tapi... aduh sayang... aduh kayanya gimana gitu...dlll
2.     2.    Kita terbentur dengan kuantitas. Maksud kuantitas : Besar/jumlahnya yang kita beri itu. Misalnya ketika kita memberi persembahan di gereja, kita memandang aduh yang saya beri ini sangat sedikit jumlahnya. Lalu merasa malu...tidak enak...dst...akhirnya tidak memberi. Ini tentu harus dihindari. Mengapa? Bukan perkara besar/jumlah yang utama namun niat kita...kualitas kasih kita dalam memberi itu lebih penting. Ingat kisah janda yang memberikan 2 keping uang ketika itu, mungkin jumlah secara nominal tidak banyak namun ia telah memberi yang terbaik dari kekurangannya.

Inti utamanya adalah --> kita sulit memberi --> karena terbentur pola pikir dalam diri kita yang ternyata kurang tepat à yang masih mendominasi. Hal ini tentu harus dihindari sejak dini. Sebelum memberi kita berpikir A, B, C, D, hal ini tentu saja tidak tepat...  

Apa kata Firman Tuhan?
Hari ini kita mau melihat bacaan kita dari Firman Tuhan yang mengajarkan kita tentang memberi. Bagaimana sesungguhnya ketika kita memberi. Kalau kita perhatikan bacaan ini ay.7 menyatakan dengan tegas à Ketika memberi yang utama :
1.       Punya sikap kerelaan dalam hatinya. Arti harfiah Rasul Paulus :”sesuai dengan pilihan di dalam hati”. Dengan kata lain  ini menandakan bahwa kita memberi dengan ketetapan hati yang bulat. Dan ini hanya dimungkinkan oleh doa.

2.       Tidak terjadi dengan sedih hati atau karena paksaan. Ketika kita memberi, tidak boleh ada unsur tekanan di dalamnya. Memberi karena tidak enak....karena diharuskan (misal ke gereja: khan harus kasih persembahan ga enak nanti dilihat sama MJ, sama teman sepelayanan-padahal kalau memberi persembahan pun bisa memberi uang yang sudah ditukarkan dahulu....)...karena orang dapat melihat lalu memuji kita....atau karena motivasi A, B, C, dll.... bukan seperti itu. Itu berarti motivasi yang kurang tepat yang telah kita lakukan. Memberi supaya... agar..... dlsb.....

Pemberian yang sejati seperti FT sampaikan melalui Surat Korintus à adalah pemberian yang diberikan dengan sukarela (lih. Ay 5; 8:5, Flm 1: 14), tulus, sungguh-sungguh keluar dari hati yang memang mau memberi dan mempersembahkan sesuatu.

3.       Memberi dengan rasa sukacita di dalamnya. Ini menjadi suatu hal yang sangat penting. Apa makna sukacita yang dimaksud Paulus di sini? Sederhana saudara... Sesungguhnya di sini Paulus hendak menyatakan bahwa Allah menghargai bukan semata-mata karena jumlah pemberian manusia, namun bagaimana cara hal itu diberikan... dengan bagaimana...dan di  sini dituliskan bahwa kita diajak untuk memberinya dengan sukacita.

Mengapa demikian? Karena sungguh ini merupakan ungkapan syukur kita atas kasih karunia yang telah Allah berikan terlebih dahulu. Kita memberi bukan dengan maksud dan motivasi lain, namun memang ini adalah ungkapan syukur kita terhadap Allah yang telah terlebih dahulu memberikan yang terbaik bagi kita. Bahkan kalau kita merenungkan Ia sampai memberikan nyawa bagi kita...itu merupakan yang terbaik..the best dari Allah untuk manusia. Kalau Allah sanggup memberikan nyawa-Nya bagi kita, maka Allah tidak menahan-nahan ketika Ia hendak memberikan berkat. Bahkan Allah sanggup melimpahkan berkat itu kepada setiap kita umat manusia yang percaya dan berharap kepada-Nya.

Dan sungguh penting  bahwa yang Allah berikan semuanya itu ”berkecukupan” demikian dituliskan pada ayat ke-8. Namun berkecukupan di sini berarti bahwa Allah tidak hanya mengusahakan agar kita berkecukupan di dalam segala sesuatu untuk kebutuhan kita sendiri saja, tetapi Firman Tuhan juga melanjutkan ada kecukupan untuk melakukan pelbagai kebajikan dalam bentuk berbagi dengan orang lain yang memang membutuhkan.

Dengan kata lain, secara sederhananya, kemurahan orang Kristen adalah kelimpahan dari kemurahan Allah sendiri (bnd. II Kor 8:1-2). Inilah sesungguhnya yang utama bagi kita sebagai umat Tuhan dalam memahami arti sebuah pemberian.

Kalau Firman Tuhan ini dikaitkan dengan kehidupan kita, maka pertanyaannya adalah lalu bagaimana dengan kita? Dengan oma, opa dan saya? Apakah kita pun telah memberikan yang terbaik? Atau kita sulit untuk memberi...kita hanya memberi sisa kepada Tuhan... atau kita tidak rela untuk memberi? Ini hanya dapat direnungkan secara pribadi oleh setiap kita. Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.
AMIN.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar