Senin, 23 Agustus 2010

Mengenal dan Menghayati Liturgi dalam Ibadah

“Mengenal dan Menghayati Liturgi dalam Ibadah”

 1.       Pemahaman dasar tentang Liturgi
Liturgi adalah istilah lain dari ibadah. Selain itu, ada beberapa istilah yang muncul terkait dengan hal ini: worship (hal yang layak dilakukan, namun secara khusus, worship di sini mengacu pada pelaksanaan ibadah yang dilakukan), service (pelayanan), office (dari kata officium: kesediaan melayani, kewajiban), cult (kultus). Akan tetapi dari semuanya itu, kata yang paling umum digunakan adalah liturgi.  
Secara definisi, istilah ‘liturgi’ ini berasal dari kata Yunani leiturgia (laos artinya rakyat, bangsa, publik, masyarakat, atau umat; sedangkan ergon artinya kerja atau pelayanan). Dengan demikian, melalui definisi ini, dapat disimpulkan bahwa liturgi adalah pekerjaan publik atau pekerjaan yang dilakukan oleh rakyat/jemaat secara bersama-sama. Dalam kajian secara teologis, liturgi kemudian diartikan sebagai kegiatan peribadahan dimana seluruh anggota jemaat harus terlibat secara aktif dalam pekerjaan bersama untuk menyembah dan memuliakan nama Tuhan.
Dasar Alkitabiah liturgi/ibadah: PL à digunakan untuk tugas imam dan orang Lewi dalam Kemah Suci atau Bait Allah, khususnya untuk pelayanan mesbah. PB à digunakan untuk tugas imam (Luk 1:23). Pekerjaan Yesus juga sebagai imam yang melayani ibadah di tempat kudus (Ibr 8:2,6), pekerjaan Rasul dalam Pekabaran Injil (Rom 15:16), pekerjaan malaikat yang melayani (Ibr 1:7, 14), jabatan pemerintah (Rom 13:6): mereka yang mengurus hal itu (pajak) adalah pelayan-pelayan Allah, ataupun pengumpulan persembahan untuk orang miskin (II Kor 9:12; Fil 2:30)

2.       Unsur-unsur Liturgi
Ada beberapa unsur dalam liturgi yang lazim kita gunakan:
§  Doa
Doa yang dimaksud ada beberapa jenis, yaitu: doa pembukaan, doa pengakuan dosa, doa pelayanan Firman, serta doa syafaat.  
§  Nyanyian Jemaat
Apa fungsi nyanyian dalam sebuah ibadah?
a.       Nyanyian dapat digunakan sebagai pemberitaan Firman Tuhan dan kehendak-Nya (Ulangan 31:16-22). Jika melihat perikop dalam Kitab Ulangan ini, dikisahkan tentang pemanggilan Allah kepada Musa untuk menyampaikan Firman dan kehendak-Nya kepada bangsa Israel yang telah mendua hati, dan penyampaian tersebut dilakukan dalam bentuk nyanyian yang diajarkan Musa kepada Bangsa Israel.
b.      Nyanyian dan musik dapat digunakan sebagai ekspresi iman atas apa yang telah Allah perbuat bagi kita: mensyukuri berkat Tuhan, menyesali dosa, menyatakan tekad dan kesanggupan serta mengakui iman (Mazmur 68:25-27). 
§  Pemberitaan Firman
Dalam gereja-gereja reformasi termasuk di dalamnya GKI, pemberitaan Firman menjadi bagian penting atau inti kebaktian gereja-gereja reformasi.  Gereja Reformasi berpandangan bahwa Allah menyatakan diri-Nya dalam ibadah lewat Alkitab yang dibacakan dan dikhotbahkan. Ketika firman dibacakan dan dikhotbahkan, Yesus Kristus sendiri hadir dan menyapa jemaat. Dengan demikian, kegiatan utama di sini adalah komunikasi, yaitu Allah berbicara melalui Alkitab, dan umat yang hadir menanggapinya. Dalam pelayanan firman, Kristus, sang Firman yang hidup itu sendiri hadir. Tidak hanya itu, kisah keselamatan diceritakan, dikenang, diproklamasikan, dinyanyikan, serta diutuskan agar umat menjalankan cerita itu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Adalah tugas pengkhotbah untuk "menghidupkan” kata-kata yang terdapat dalam Alkitab hingga menjadi relevan bagi pendengar masa kini.
§  Persembahan atau Pelayanan Meja
Pelayanan Firman tidak dapat dipisahkan dari pelayanan meja. Pelayanan meja yang dimaksud adalah persembahan syukur sebagai respons atau kesediaan umat setelah menerima Firman Allah. Melalui Firman, umat bersedia untuk menaati bukan hanya verbal, namun juga dalam tindakan nyata yaitu mengumpulkan persembahan. Persembahan tersebut akan digunakan untuk mendukung kehidupan gereja dalam arti luas.

Untuk kebaktian Minggu, unsur-unsur liturgi juga mencakup votum dan salam, Pengakuan Iman, Pengutusan dan berkat. Akan tetapi, dalam ibadah rumah tangga, PerWil, ataupun juga persekutuan, umumnya dapat digunakan unsur-unsur liturgi seperti yang telah dijelaskan dalam point-point sebelumnya.
Ritus dan unsur-unsur liturgi dewasa ini adalah hasil pembentukan selama berabad-abad. Akar-akarnya telah ada sejak zaman gereja awal, bahkan sejak umat Yahudi di dalam PL. Yesus tidak pernah memberikan tata ibadah yang harus dilakukan oleh gereja. Informasi Alkitab mengenai bentuk liturgi gereja awal berdasarkan Kis 2:4-42 menuliskan: orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Tidak ada informasi detail tentang tata liturgi, hanya disebutkan adanya baptisan, pengajaran, persekutuan, pemecahan roti, dan doa dalam gereja awal. Namun demikian, tata liturgi yang ada dan digunakan oleh gereja saat ini cenderung mengacu pada ibadah Yahudi (tata liturgi yang umum digunakan: pembacaan Alkitab, menyanyikan Mazmur dan puji-pujian, homilia, serta doa termasuk doa syafaat)  

3.       Pelayanan dalam Persekutuan Komisi Dewasa
Dalam sebuah persekutuan seperti halnya persekutuan komisi dewasa di tempat ini, ada beberapa
orang yang turut ambil bagian dalam pelayanan, antara lain sebagai liturgos, pemimpin renungan Firman Tuhan, ataupun mereka yang bertugas untuk memanjatkan doa.
a.       Liturgos secara harafiah, liturgos berarti pemimpin liturgi. Umumnya liturgos ini berperan untuk memimpin jalannya liturgi dari awal ibadah hingga akhirnya. Pertanyaannya adalah kira-kira apa saja tugas seorang liturgos?

-Menyiapkan liturgi persekutuan, termasuk di dalamnya memilih dan menentukan lagu-lagu yang akan dinyanyikan bersama, memilih ayat/bahan Firman Tuhan yang akan digunakan sebagai pembuka ibadah, ataupun memilih Mazmur yang akan dibacakan secara responsorial (bila dalam liturgi akan dibacakan Mazmur).
-Menyiapkan diri dalam menyampaikan liturgi (terkait dengan teknis pelaksanaan: tidak terlalu cepat, jelas, sungguh-sungguh menjadi sebuah penghayatan bagi umat yang mendengarnya) 

Pada praktiknya, memilih lagu/puji-pujian dalam ibadah dan persekutuan ternyata tidak mudah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:

ü  Alangkah indahnya bila pemilihan puji-pujian disesuaikan dengan tema renungan Firman Tuhan yang disampaikan, sehingga menjadi suatu kesatuan ibadah yang utuh dan mengalir. Misalnya saja tema Firman Tuhan adalah “Mengalami Kebaikan Allah”, maka puji-pujian yang dipilih pun diarahkan ke tema tersebut.
ü  Lagu-lagu yang dipilih pun harus disesuaikan dengan waktu dinyanyikan (apakah dinyanyikan di : awal/pembukaan, pengakuan dosa, persembahan, penutup/akhir ibadah). Dalam buku-buku nyanyian yang direkomendasikan oleh GKI (NKB,KJ, dan PKJ), sudah ada pembagian tersebut, dan ini tentunya sangat membantu kita semua. Ambil saja sebagai contoh KJ 1-22 dapat dinyanyikan di awal ibadah sebagai sebuah pujian untuk menghadap Allah dan mengagungkan nama-Nya, sedangkan KJ 49-59 dinyanyikan ketika pelayanan Firman, demikian seterusnya.    
ü  Akan lebih baik lagi bila dalam memilih lagu yang akan dinyanyikan, kita juga melihat dan memperhatikan setiap syair dalam lagu itu atau bahkan sejarah lagu itu ditulis (ada sebuah buku ‘Kisah Kidung’ yang dapat membantu kita). Ini akan menolong kita untuk semakin menghayati lagu tersebut.  

Demikian pula dalam pembacaan Mazmur secara responsoria, diharapkan dipilih bagian Alkitab dalam Mazmur yang sesuai atau mengarah pada tema Firman Tuhan dalam ibadah tersebut. Kitab Mazmur merupakan kesaksian yang ditulis oleh Pemazmur karena Sang Pemazmur merasakan begitu banyak hal dalam hidupnya.

Mazmur adalah Kitab dengan pasal yang terbanyak (150 pasal), dan setiap pasal memiliki keunikannya sendiri. Untuk pembukaan atau ajakan beribadah (misalnya dapat diambil dari Mzm 33,  48, 50, 63, 84, 100, 103,117, 118, 145-150, dll. Selain itu, ada pula tema-tema teologis dalam kitab Mazmur yang menarik untuk diperhatikan. Misalnya saja tentang perlindungan Allah bagi umat manusia, janji dan kesetiaan Allah serta keadilan Allah bagi umat manusia (misalnya Mzm 7,9,10,11,23,27,28,31,34,42,43,46,52,57,62,64,73-75,dlsb); Mazmur yang berisikan nyanyian syukur dan doa (misalnya Mzm 4,5,6,12,13,18,20,21,25,30,35,38, 39,40, dlsb), ataupun Mazmur yang berisi nasihat, dll. Ini dapat digunakan dalam pembacaan Mazmur secara responsorial.   
------Informasi: untuk saat ini, dapat digunakan urutan liturgi seperti yang ada di liturgi PerWil------

b.      Pemimpin renungan Firman Tuhan à bertugas untuk mempersiapkan diri dalam pelayanan FIrman. Selain sebagai liturgos, ada pula di antara kita yang akan mendapat kesempatan untuk memimpin renungan Firman Tuhan. Tentu hal ini juga tidak mudah dalam praktiknya. Diperlukan persiapan yang matang dalam pelaksanaannya. Dalam menyiapkan renungan yang akan kita beritakan, penting bagi kita untuk melihat bahan Alkitab yang telah disiapkan tersebut, lalu digali apa pesan Firman Tuhan bagi kita, tentu dengan memperhatikan perbedaan situasi teks dan konteks yang ada. Hal lain yang utama ketika menyampaikan Firman Tuhan adalah bagaimana sapaan Firman Tuhan itu menjadi relevan dan bersifat aplikatif-reflektif bagi umat yang mendengarnya.       

c.       Tugas berdoa : baik doa pembukaan, doa syafaat ataupun juga doa penutup. Tugas untuk berdoa ini juga melibatkan kita semua, sebagai umat yang hadir dalam persekutuan. Hal utama yang diingat ketika berdoa adalah bagaimana kita berkomunikasi kepada Tuhan. Persoalan yang timbul adalah ada beberapa orang yang merasa kesulitan untuk berdoa karena tidak dapat merangkai kata-kata dengan indah, padahal dalam berdoa yang utama adalah ketulusan hati kita untuk ‘berbicara’ kepada Tuhan dalam sebuah komunikasi itu. Ini penting untuk menjadi perhatian kita bersama.   









o   Tidak bersedia (dimulai dari dalam diri sendiri) à keinginan untuk melayani
o   Ada perasaan diri yang muncul à kurang PD. Contoh konkret: saya kurang bisa berbicara di depan umum, kurang siap kalau diminta berdoa, kurang bisa menyanyi dan tidak tahu not, pengetahuan Alkitab yang masih kurang, dlsb.
o   Kurangnya persiapan à sering ditunjuk secara mendadak; minimnya pengetahuan tentang menjadi seorang liturgos, atau pemimpin renungan.
 



 TIPSSSS


ü  Percaya DIri, yakin bahwa “saya bisa” dan mempunyai kemampuan yang telah Tuhan anugerahkan.
ü  Terus melatih dan membekali diri untuk lebih baik dalam pelaksanaannya, entahkah sebagai liturgos, pemimpin renungan Firman Tuhan ataupun jika mendapat tugas untuk berdoa (salah satunya dalam pembinaan liturgos dan pembinaan persiapan pelayan Firman)
ü  Belajar untuk siap ketika ditugaskan untuk turut ambil bagian dalam pelayanan di persekutuan.




Selamat Melayani
Tuhan Memberkati
G.T

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar