Senin, 23 Agustus 2010

Khotbah Narasi - Yoh 3:16

KHOTBAH NARASI (Yohanes 3:1-18)

            Saudara/i terkasih, kalau kita telusuri bersama Injil Yohanes 3:1-18 yang telah kita baca bersama saat ini, pada kenyataannya kita diajak untuk melihat satu alur cerita yang sangat menarik dan dapat menjadi perenungan kita bersama.  Yohanes 3:1-18 ini diawali dengan seorang Farisi yang bernama Nikodemus.  Siapakah Nikodemus itu? Alkitab mencatatkan beberapa hal penting (saya rangkum menjadi 3 point), sehubungan dengan sosok ini:

v  Nikodemus adalah seorang Farisi
Sebagai seorang Farisi, Nikodemus “dituntut” untuk berpegang pada hukum Taurat.  Hal-hal yang berhubungan dengan “legalistik” ini memang menjadi perhatian utama dari keberadaan seorang Farisi.  Orang Farisi sangat teliti dan sungguh-sungguh menjalankan hukum Taurat.  Mereka akan sangat berpegang pada hukum Taurat tersebut.

v  Nikodemus juga pasti merupakan seorang yang kaya
Mengapa dapat disebutkan demikian? Karena dalam Injil Yoh 19:39, jelas dituliskan bahwa Nikodemus adalah seorang yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus.  Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya.  Saat itu, minyak mur dan minyak gaharu merupakan rempah-rempah yang mahal harganya.  Nikodemus sanggup memiliki dan membeli rempah-rempah tersebut, sehingga tidak diragukan lagi bahwa ia pasti merupakan seorang yang kaya.

v  Nikodemus adalah seorang yang sudah banyak mendengar tentang Yesus
Nikodemus tentu sudah banyak mendengar dan menyaksikan berbagai mujizat yang dilakukan oleh Yesus.  Kekaguman terhadap Yesus muncul, sehingga pada akhirnya ia pun berusaha untuk berjumpa dengan Yesus agar dapat mengetahui lebih banyak lagi perihal sosok yang dikaguminya tersebut.  Kesempatan itu datang.
Nikodemus akhirnya dapat bertemu dengan Yesus secara pribadi, dan ini terjadi pada waktu malam hari.  Malam hari dipilih, mungkin untuk berjaga-jaga terhadap sesama Farisi yang lain.  Namun kemungkinan lain yang muncul adalah malam hari juga dirasa menjadi waktu yang tepat, karena tidak ada gangguan yang datang. 

Menilik lebih khusus kisah ini, alur cerita berlanjut dengan pertemuan Nikodemus dan Yesus.  Terjadi percakapan di antara mereka.  Percakapan berlangsung dengan “sedikit membingungkan”, khususnya bagi Nikodemus.  Pandangan dan ajaran Yesus dapat dikatakan “sulit dimengerti” olehnya.  Konsep kelahiran baru yang diuraikan oleh Yesus (mulai ayatnya yang ke-3) menyulitkan pola pikir Nikodemus, karena ia memahaminya secara lahiriah, padahal justru Yesus melihat hal tersebut sebagai sebuah peristiwa rohani. 

Pertanyaan yang muncul dalam pemikiran Nikodemus adalah lalu bagaimana caranya seseorang dilahirkan kembali secara rohani? Ayat 14 bacaan kita menjadi jawabannya.  Yesus menjawab pertanyaan Nikodemus.  Ia memberikan penjelasan dengan mengambil gambaran pada apa yang dialami oleh Bangsa Israel ketika di padang gurun (Bilangan 21:9).  Diceritakan bahwa ketika itu bangsa Israel bersungut-sungut terhadap Allah, dan Allah mengirimkan ular-ular berbisa di tengah-tengah mereka.  Ular itu menggigiti mereka sehingga ada di antaranya yang mati, dan sebagian lagi menderita parah karena gigitan ular berbisa itu.  Sebagai akibatnya, mereka pun mengakui dosa mereka dan berseru minta tolong kepada Musa.  Selanjutnya, Musa sendiri mohon pertolongan kepada Tuhan Allah. 

Akhirnya, Allah pun menyuruh Musa membuat sebuah patung berupa ular dari tembaga.  Patung itu kemudian dipasang di atas sebuah tongkat.  Dipesankan-Nya bahwa semua orang Israel yang telah digigit ular memandang ke ular tembaga itu dengan iman, dan singkat cerita, mereka pun akhirnya dapat disembuhkan.

Saudara/i terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, penggunaan analogi ular tembaga itu sebenarnya hendak menjelaskan sosok Yesus Kristus.  Yesus menyatakan bahwa Diri-Nya adalah “ular tembaga” itu.  Ia menjadi “ular tembaga” bagi dunia yang telah jatuh ke dalam dosa.  Ia menjadi penyelamat dunia dari keberdosaan.  Ia adalah Anak Tunggal Bapa yang telah berkorban bagi umat manusia (Yoh 3:16). 

Keselamatan yang Allah berikan melalui Yesus Kristus tentu saja akan terjadi kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya.  Setiap orang yang mengimani itu dalam hidup mereka secara pribadi.

Jadi jelas melalui pemaparan ini saudara, bahwa manusia selamat hanya karena iman percayanya, dan bukan karena melakukan Hukum Taurat.  Iman percaya inilah yang memampukan seseorang untuk mengalami sebuah kelahiran kembali.  Ungkapan kelahiran kembali memiliki makna yang sangat penting, yaitu: terus menerus diperbaharui.  Seseorang yang mengalami kelahiran kembali tentu saja akan mengalami pembaharuan dalam hidup mereka, dan ini nyata melalui sikap dan perbuatan yang dilakukan olehnya.  Akan tetapi, penting untuk diingat pula bahwa kelahiran kembali ini hanya dapat terjadi melalui pekerjaan Roh Kudus.  Roh Kudus itulah yang akan senantiasa menuntun dan memampukan kita untuk mengalami peristiwa kelahiran kembali tersebut. 

Singkatnya: dengan iman, kita akan mengalami kelahiran kembali.  Kelahiran kembali dalam hal ini berarti bahwa kita terus menerus diperbaharui, yaitu diperbaharui dalam setiap hidup kita.  Pembaharuan tersebut akan terjadi karena Roh Kudus yang menyertai kita...yang menolong kita untuk mengalaminya....

Penggambarannya kurang lebih demikian:
IMAN à KELAHIRAN KEMBALI à PEMBAHARUAN HIDUP à ROH KUDUS

 
 



Lalu, Yang menjadi pergumulannya adalah:
Apakah kemudian kita sudah peka atau menyadari akan anugerah keselamatan yang Allah berikan kepada setiap kita?  Mari kita menyambut anugerah itu dengan iman kita secara pribadi...Beriman berarti bahwa kita tidak hanya kita percaya, namun beriman yang benar dan ada campur tangan Roh Kudus di dalamnya akan mengubah hidup kita untuk terus menerus diperbaharui.  Pembaharuan dalam hal ini tentu mengarah pada pembaharuan ke arah yang positif....

Inilah hal yang sungguh essensial...hal yang sangat penting untuk kita perhatikan, renungkan serta aplikasikan bersama dalam hidup kita, pribadi lepas pribadi.  Ini pula yang menjadi tantangan kita bersama, sebagai umat Tuhan yang menyatakan iman percaya kita kepada-Nya, dan juga menyatakan kesediaan untuk mengalami perubahan menuju pembaharuan hidup setiap hari dalam hidup kita.

Di akhir khotbah ini saya mengajak kita sekalian untuk memperhatikan sebuah lagu yang terdapat dalam PKJ 200 yang berjudul “KU DIUBAHNYA”.  Syair lagu tersebut menyebutkan demikian:


‘Ku diubahNya saat ‘ku berserah,
berserah kepada Yesus.
‘Ku diubahNya, hingga jadi baru
dan menjadi milikNya

Kegemaran lama t’lah lenyap
dan yang baru lebih berkenan.
‘Ku diubahnya saat ‘ku berserah
dan menjadi milikNya!

Saudara/i yang dikasihi dan mengasihi Tuhan Yesus Kristus, saya sungguh terkesan dengan apa yang terdapat dalam syair lagu ini.  Liriknya sungguh menarik...Mengapa? Karena melalui lagu ini kita sama-sama diajak untuk terus mau diubah menjadi baru...diubah untuk menjadi milik Yesus...diubah dalam hal ini tentu diarahkan pada perubahan hati kita saudara....perubahan hati untuk terus menerus hidup dalam terang kasih Kristus, yang memampukan kita untuk juga mengasihi orang yang ada di sekitar kita...Satu hal penting yang harus diperhatikan adalah perubahan untuk terus menerus diperbaharui ini hanya dapat digumuli oleh diri kita secara pribadi....

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita bersedia saudara? Apakah dengan keteguhan iman, kita mau dan bertekad untuk mengalami pembaharuan hidup itu?  Mari kita renungkan dan jawab bersama pribadi lepas pribadi...

Tuhan Yesus Memberkati kita sekalian.
AMIN.  


           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar