Selasa, 24 Agustus 2010

Kepemimpinan yg mlayani - dapet dari BizResult

Memimpin dengan Melayani
by BizResult on Wednesday, June 9, 2010 at 6:45pm

Kita sering mengartikan kepemimpinan dengan jabatan formal, dengan segudang fasilitas dan pelayanan yang melekat di dalamnya. Pandangan ini menodai kepemimpinan yang kita lakukan karena pengikut memilih pemimpin untuk memenuhi kepentingan mereka. Jadi sebenarnya menjadi pemimpin itu berarti harus bisa melayani kepentingan banyak orang. Meskipun banyak pemimpin atau pejabat yang mengatakan bahwa jabatan adalah sebuah amanah, namun dalam kenyataannya belum banyak terlihat pemimpin yang sungguh-sungguh menerapkan kepemimpinan yang melayani.

Esensi Kepemimpinan Melayani

Konsep kepemimpinan melayani sesungguhnya sudah sejak lama dikenal. Dalam buku klasiknya yang terbit tahun 1958, Servant Leadership: A Journey into the Nature of Legitimate Power and Greatness, Robert Greenleaf mengemukakan bahwa pemimpin adalah pelayan terlebih dahulu, artinya kepemimpinannya ditentukan terlebih dahulu oleh keinginan untuk melayani kepentingan orang lain.

Dalam buku ini Greenleaf menggambarkan kepemimpinan melayani lewat seorang tokoh fiksi karya Herman Hesse “Journey to the East” bernama Leo, yang menyertai sebuah tim ekspedisi sebagai pelayan yang mendampingi para petualang ini, tetapi pada kenyataannya selama ekspedisi itu Leo adalah yang mendukung mereka dengan semangat dan lagu-lagunya.

Dia adalah orang yang nilai kehadirannya luar biasa. Ini terbukti dengan semuanya berjalan dengan baik sampai Leo menghilang. Kemudian kelompok ini jatuh ke dalam kekacauan dan perjalanan itu menjadi kandas. Inilah peranan penting pemimpin dalam pandangan Greenleaf, seseorang yang senantiasa menjadi pendukung dan penyemangat, yang menggerakkan orang lain tidak lewat perintah tetapi melalui inspirasi.

Tidak seperti gaya kepemimpinan konvensional yang bersifat vertikal yaitu hubungan antara atasan dan bawahan dengan dibatasi hierarki organisasi yang kaku. Gaya kepemimpinan yang melayani sebaliknya mendorong terjadinya kolaborasi, empati, dan kepercayaan antara atasan dan bawahan.Dengan cara ini, organisasi ternyata dapat menjadi lebih berkembang dan mendorong terciptanya kinerja yang mengesankan. Masyarakat semakin mendambakan sosok pemimpin yang mau mengerti dan melayani kebutuhan mereka.

Menjadi Pemimpin yang Melayani

Menerapkan ide-ide Greenleaf dalam lembaga-lembaga modern sering dipandang sinis oleh banyak pemimpin dan pengikut, yang menginginkan paradigma yang didasarkan pada kekuasaan dan kontrol paksaan dan bukan kekuasaan yang sah berdasarkan kesepakatan. Sebenarnya ada dua pertanyaan tentang kepemimpinan yang dijawab oleh buku Greenleaf: Bagaimana pemimpin dapat melayani masyarakat? Apa yang dimaksud dengan sumber daya kekuasaan yang sah?

Bagaimana melakukannya? Sebuah buku yang menarik tentang kepemimpinan yang melayani berjudul Leadership by The Book, Ken Blanchard mengisahkan tentang tiga orang karakter yang mewakili tiga aspek kepemimpinan yang melayani, yaitu HATI yang melayani (servant HEART), KEPALA atau pikiran yang melayani (servant HEAD), dan TANGAN yang melayani (servant HANDS).


Hati Yang Melayani (Karakter Kepemimpinan)

Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam diri kita. Kepemimpinan menuntut suatu transformasi dari dalam hati dan perubahan karakter. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam dan kemudian bergerak ke luar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Disinilah pentingnya karakter dan integritas seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin sejati dan diterima oleh yang dipimpinnya.
Pemimpin yang melayani memiliki kasih dan perhatian kepada mereka yang dipimpinnya. Kasih itu mewujud dalam bentuk kepedulian akan kebutuhan, kepentingan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mau mendengar. Mau mendengar setiap kebutuhan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya.

Kepala Yang Melayani

Seorang pemimpin sejati tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata, tetapi juga harus memiliki wawasan kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang efektif. Hal ini tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah formal namun bisa diajarkan. Dalam salah satu artikel di economist.com ada sebuah ulasan berjudul Can Leadership Be Taught. Jelas dalam artikel tersebut dibahas bahwa kepemimpinan (dalam hal ini metoda kepemimpinan) dapat diajarkan sehingga melengkapi mereka yang memiliki karakter kepemimpinan. Ada tiga hal penting dalam wawasan kepemimpinan, yaitu membangun visi, menerjemahkannya menjadi aksi, dan mengukur kinerja yang terjadi.

Selain itu, seorang pemimpin yang efektif adalah seorang pelatih atau pendamping bagi orang-orang yang dipimpinnya (performance coach). Artinya dia memiliki kemampuan untuk menginspirasi, mendorong dan memampukan anak buahnya dalam menyusun perencanaan (termasuk rencana kegiatan, target atau sasaran, rencana kebutuhan sumber daya, dan sebagainya), melakukan kegiatan sehari-hari (monitoring dan pengendalian), dan mengevaluasi kinerja dari anak buahnya.

Tangan Yang Melayani

Pemimpin sejati harus menunjukkan perilaku maupun kebiasaan seorang pemimpin. Karakter dan pengetahuan yang dimilikinya sudah demikian menyatu dan tercermin dalam penerapan di dalam kehidupan. Artinya hati dan kepala yang melayani ini sudah terintegrasi dalam aktivitas sehari hari dan menjadi tangan yang melayani.

Pemimpin ini tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang dipimpinnya, tetapi senantiasa mau belajar dan bertumbuh dalam berbagai aspek, baik pengetahuan, kesehatan, keuangan, relasi, dan sebagainya. Setiap hari senantiasi menselaraskan (recalibrating) dirinya terhadap komitmen untuk melayani Tuhan dan sesama. Melalui renungan, doa, dan bacaan.

Kesimpulan

Demikian kepemimpinan yang melayani menurut Ken Blanchard yang menurut kami sangat relevan dengan situasi krisis kepemimpinan yang dialami oleh bangsa Indonesia. Bahkan menurut Danah Zohar, penulis buku Spiritual Intelligence: SQ the Ultimate Intelligence, salah satu tolok ukur kecerdasan spiritual adalah kepemimpinan yang melayani (servant leadership).

Bahkan dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate Luderman, menunjukkan bahwa pemimpin-pemimpin yang berhasil membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan biasanya adalah mereka biasanya adalah orang-orang yang memiliki integritas, terbuka, mampu menerima kritik, rendah hati, mampu memahami orang lain dengan baik, terinspirasi oleh visi, mengenal dirinya sendiri dengan baik, memiliki spiritualitas yang tinggi, dan selalu mengupayakan yang terbaik bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain. Dan itu semua ada dalam pemimpin yang melayani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar