Kamis, 08 Januari 2015

Teknologi Ilah Modern



Kebaktian Minggu PORIS (Wil. 8) 12 Oktober 2014
“Teknologi, Ilah Modern”
Bacaan 1            : Keluaran 32:1-14
Antar Bacaan : Mzm 106:1-6, 19-23
Bacaan 2           : Filipi 4:1-9
Bacaan Injil      : Matius 22:1-14

K.H.O.T.B.A.H

Mangan ora mangan sing penting connect. Plesetan peribahasa ini cukup tepat untuk menggambarkan realitas penggunaan teknologi bagi masyarakat Indonesia.

Data kementrian komunikasi dan informatika (Kemenkominfo) menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia : 63 juta orang. Kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 216 jt, maka 1 dari 4 orang penduduk Indonesia adalah pengguna internet.

Menariknya : 95% ternyata menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Dan masih menurut kemenkominfo : situs jejaring sosial yang paling banyak diakses : FB, TWITTER. Bahkan yang wuah : Indonesia menempati peringkat 4 pengguna FB terbesar setelah USA, Brazil dan India.

Teknologi lain yang sangat akrab dg masyarakat kita : TELEVISI.
Hampir semua rumah tangga di Indonesia memiliki TV. Bahkan dapat dikatakan bahwa TV : menjadi perlengkapan utama rumah tangga. Menurut hasil riset Nielsen tentang pengukuran pemirsa TV th 2012 menunjukkan bahwa konsumsi media televisi masih memimpin total konsumsi media yaitu sebesar 94% dari total populasi media konvensional di Tanah Air.
Konon dalam sehari pemirsa bisa menghabiskan sekitar 4,5 jam duduk di depan TV,
Data tsb menunjukkan bahwa menonton TV adalah pilihan utama keluarga kita. Hingga ada yang menyebutkan bahwa saat ini TV telah menjelma menjadi baby sitter *Tim Pustaka Familia*

Gereja pun tak luput dirambahi teknologi. Hampir kebanyakan gereja saat ini pakai alat bantu LCD Proyektor. LCD : Liquid Crystal Display Proyektor : perangkat teknologi yg mampu menghadirkan gambar tayangan dan video dari computer ke layar datar. Media ini menggantikan OHP yang hanya menampilkan gambar dan tulisan yang kaku.

Kehadiran LCD Proyektor disambut gereja dg antusias sebab dianggap menolong umat memahami berita Alkitab. Pernah dilakukan sebuah survey dari tokoh bernama Quentin J Schultze tentang manfaat yang dirasakan gereja dalam menggunakan teknologi multimedia:
-        Lebih relevan dg umat
-        Lebih relevan dg generasi muda
-        Lebih menyentuh
-        Secara teknis : mudah dilakukan karena banyak umat yang memiliki kemampuan untuk operate
-        Irit : buku/kertas
-        Mampu mengeksplorasi liturgy
-        Lebih murah
-        Dapat memelihara relasional dg gereja lain

Kenyataan ini menunjukkan bahwa kita akrab dg teknologi. Bahkan keakraban ini seringkali disebut dg digital native untuk generasi yang lahir di pertengahan th 90. Sebuah generasi (tadi di sambutan sudah disebut) generasi Z yang sangat dekat dg teknologi.

Bnd. Gap Generasi yang ada!
        BABY BOOMERS (1945-1964) = RADIO ‘saur sepuh’, catatan si Boy,
        GENERASI X (1965-1980) = TELEVISI, hitam putih masuk ke warna boro-boro LED, LCD, J.
        GENERASI Y (1981-1994) = KOMPUTER, masih 486 (inget masuk buku sejarah), sistem – disket, floppy, Pentium 1 udah lumayan… asrama – ngantri.
        GENERASI Z (> 1994) = INTERNET dan PERANGKAT ELEKTRONIK LAINNYA (era digital) à  komputer/laptop, HandPhone 3210, sampe BB Android S1-S Teler.. J, iPad, PDA, MP3 player dlsb.
        GENERASI ALFA .

Maka tak heran anak-anak zaman sekarang fasih sekali main gadget.mereka ngga bisa dipisahkan dari gadget dan WIFI (Wireless Fidelity). Apa yang dicari orang : colokan * cerita GT ke tempat kopi anak masuk langsung cari bangku pojokan yang ada colokannya. Belinya/mesen minumnya mah belom.. Jadi = cari tempat dengan fasilitas WIFI sudah menjadi kebutuhan PRIMER * bnd zaman dulu keb primer : sandang pangan papan* sekarang ternyata sudah bergeser.

Kenyataan ini melahirkan juga dampak yang negative : teknologi menjadikan mereka a-sosial. Individual space meningkat, yaitu meningkatnya ruang invidual karena telah memperoleh informasi melalui media komunikasi yang canggih seperti internet. Orang akan lebih menyukai duduk di depan computer yang berinternet daripada bersosialisasi dengan orang lain di dunia nyata. Dengan demikian, social space akan menyempit dan digusur dengan individual space tersebut.
Sebuah artikel bahkan menuliskan bahwa dampak yang negative dari gaya hidup modern yang sarat dengan teknologi adalah Terbentuknya suatu generasi baru yang disebut ‘generasi merunduk’ atau ‘generasi bisu’. Generasi bisu adalah sebutan untuk sebuah generasi yang tak banyak berkomunikasi secara tatap muka. Komunikasi mereka hanya melalui dunia maya. Mereka lebih banyak mengenal orang-orang nun jauh dari pelosok bumi yang mungkin tak memakai identitas mereka yang sebenarnya. Sebuah generasi yang tak mengenal tenggang rasa. Teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan setiap orang untuk mengungkapkannya secara bebas tanpa harus berbicara langsung. Sayangnya, kondisi ini membuat pemakainya menjadi gagap ketika harus berbicara secara langsung. Chatting dan bahasa tulisan lainnya ketika sedang  berkomunikasi lewat internet membuat orang tidak perduli dengan tata bahasa dan tata kalimat yang baik. Seolah-olah mereka mempunyai bahasa ‘khusus’ yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri.
Masalah lain yang juga muncul : tentu saja adalah kecanduan/adiksi. Mulai dari kecanduan game online. Cerita pengalaman orang kecanduan game online.

Tidak hanya pada anak/remaja namun juga mereka yang bekerja bahkan professional pun dapat kecanduan game. Pernah diceritakan ada professional gemar sebuah permainan namanya HAYDAY, permainan memberi makan ternak *NGGA ASLI*KAYA TOMOGACHi… saking asiknya, sampai lupa bahwa ia sedang kerja, professional.

Belum lagi ada game yang ternyata di dalamnya ada unsur perjudian. “poker online” yang hadir dg berbagai variasi nama.

Itu baru game. Gimana dg kecanduan media sosial? FB, Twitter, Path, Instagram…. Kata kuncinya apa? STATUS. UPDATE STATUS. Pengguna merasakan keberadaannya penting jadi harus update status… semakin banyak prang yang koment, reply, like : semakin merasa bahwa dirinya penting…

Mereka lupa bahwa melalui medsos, persoalan dan perasaan personal : menjadi miliki publik. Itu jalan masuk : pemanfaatan medsos secara negatif. Mulai dari cinta kilat, cinta ’aneh’ ngga pernah ketemu lalu kawin… penipuan.. *kasus hanung* bullying… mulai dari kata-kata sampai tindakan. Berawal dari medsos. Bahkan teknologi khususnya gadget di kalangan tertentu jadi GAYA HIDUP. awal bb ngga punya ‘ktinggalan. Sekarang android.. : bukan perlunya tapi gayanya.. bangganya..

Bahasa dunia maya sudah mulai masuk juga – masuknya dalam khasanan bahasa alay anak muda. Kata-kata yang muncul :
KELES – arti : kali “lu kemaren dateng ya.. ihh salah keles”
BINGIT
KEPO – mau tau aja
LOL Laugh of Laugh
OMG – DITAMBAH PDA : Oh My God, Plis Deh Ahh…
Apalagi ?
Banyak sekali.  

Inilah penelusuran yang terjadi! Ada dampak negative akibat penggunaan teknologi yang berlebihan. Dari sekian banyak dampak yang ada, ada sebuah dampak negative yang cukup bahkan saya katakan sangat parah yaitu ketika teknologi mampu mengalihkan perhatian kita pada Tuhan. Ini sangat berbahaya. Ketika hidup manusia modern dikuasai oleh teknologi, tidak bisa memanfaatkan secara bijak dan kritis, disitulah teknologi menjadi ‘ilah dalam kehidupan manusia.

Arti dijadikan ilah : ketika posisinya ‘menggantikan’ Tuhan. Harusnya Allah yang utama, Tuhan yang utama, bahkan menjadi andalan kita, namun kita menggesernya dengan yang lain.  
Hari ini kita hendak belajar dari pengalaman Bangsa Israel. Bangsa Israel pernah berada dalam posisi demikian ketika mereka meminta Harun untuk membuat patung, ilah untuk disembah.
Ini diuraikan dalam Kel 32.

3 hal menarik
Pergolakan Bangsa Israel terus berlanjut
-        Kitab keluaran secara jelas menggambarkan pergolakan iman Bangsa Israel di tengah ksulitan hidup yang mereka jalani saat keluar dari Mesir
-        Dalam Kitab ini, kita menemukan bagaimana beratnya, seramnya keberdosaan bangsa yang telah dipilih Allah
-        Mulai dari ketika mereka menyebrang laut Teberau. Saat ksulitan air di mara dan saat mereka menderita kelaparan.
-        Namun cerita dalam Kel 32 : berbeda karena mereka telah menerima perjanjian dng Allah dan menerima ke-10 Hukum Tuhan.
-        Oleh karena itu pemberontakan mereka kali ini SUNGGUH SERIUS dibandingkan dg sungut2 yang mereka lakukan sebelumnya.

Perasaan ditinggalkan dan tidak adanya pegangan dalam hidup mereka
-        Keadaan semakin parah : Musa pergi ke Gunung Sinai untuk menerima petunjuk dari TUHAN.
-        Israel dilanda kegelisahan.
-        Kegelisahan tsb bukan semata-mata karena mereka mencemaskan nasib Musa, melainkan karena mereka memikirkan diri mereka sendiri, karena mereka membutuhkan seorang pemimpin (32:1) yang bisa menuntun mereka. Mereka kehilangan pegangan. Allah dirasa jauh. – ini pula yang kerap kita alami bukan?
-        Singkat cerita mereka mendatangi Harun dan memintanya “buatlah untuk kami allah yang akan berjalan di depan kami..”
-        Dalam pemikiran mereka yang SEMPIT : mereka mempertimbangkan nasib diri mereka di tengah padang gurun itu – mereka masih harus berjalan mencari kehidupan yang mapan, dan mereka menyadari bahwa mereka tak berdaya melakukannya tanpa sebuah pegangan hidup.
-        Mereka (Isr) ingin memiliki ‘allah’ yang dapat dilihat langsung., sekalipun mereka mengetahui bahwa itu adalah buatan manusia, namun tokh mereka ingin menghadirkan allah sesegera mungkin.
-        Sehingga apa yang terjadi ? karena keinginan mereka yang besar itulah mereka menjadi beralih. Dari menyembah Allah yang sejati, kepada menyembah dan memuja ilah yang berwujud patung buatan.
-        Israel mendesak Harun untuk segera membuat patung bagi mereka untuk disembah.
-        Kita mungkin bertanya – kenapa Harun mau bahkan memakai nama Tuhan dan menerapkannya pada pada anak lembu emas? Dimana kejernihan berpikir dan spiritualitasnya? Ada bbrp jawaban. Mungkin saja bisa kita kaitkan dg desakan orang banyak yang disertai ancaman agar Harun membuat allah yang kelihatan. Atau bisa juga Harun terinspirasi kepercayaan bangsa lain dimana lazim dilakukan praktek pemujaan terhadap lembu jantan atau anak lembu sebagai lambang kehadiran yang ilahi.

Dampak Tindakan Israel
-        Allah murka atas apa yang dilakukan mereka.
-        Ay. 7 menuliskan kemarahan Allah yang mendalam. – Allah menyampaikan kepada Musa – kata yang digunakan ‘bangsamu (bangsa musa – karena murkanya). Mereka telah menyimpang dengan cepat, tanpa mengingat pertolongan Tuhan Allah selama ini kepada mereka.
-        Respon Musa : berupaya melunakkan hati Tuhan.  – mengingatkan Tuhan akan perbuatan yang sudah dilakukan-Nya kepada umat yaitu melepaskan mereka dari tanah Mesir.
-        Ajaib : sekalipun Israel tidak setia – Allah setia
-        Ini diteguhkan dalam mazmur. Kasih setia Tuhan dinyatakan keselamatan Allah jg dinyatakan.

PERENUNGAN :

Pengalaman Bangsa Israel mengingatkan kita bahwa bukan tidak mungkin kita pun tak ubahnya bangsa Israel. Memang mungkin sedikit aga berbeda, karena ilah zaman sekarang tak lagi berbentuk patung, anak lembu emas. Ilah di zaman modern ini sudah muncul dalam berbagai bentuk yang kita temui dalam hidup kita sehari-hari. Bisa materi… ‘uang… hepeng… doi … * dari dulu lagunya sama ‘apa yang dicari orang…uang uang uang… atau seperti tema kita dalam rangkaian Bulan Keluarga 2014 ini. Teknologi pun bisa menjadi ilah, apalagi dalam kehidupan masyarakat modern saat ini.

Seperti ilah-ilah di sepanjang masa, ilah zaman sekarang sangat menawan dan menarik perhatian. Namun tanpa disadari, ternyata ia (ilah-ilah tersebut) telah menggantikan peran Tuhan.

Contoh paling gampangnya : nyaris tidak ada orang yang merasa ada yang hilang/kurang dari dirinya, ketika ia tidak berdoa pagi, tidak ke gereja, atau melakukan aktivitas religius lainnya. Namun, orang zaman sekarang akan gundah ketika lupa membawa gadgetnya. Bela-belain pulang lagi ke rumah, untuk ambil gadget itu. Meskipun untuk itu ia harus terlambat ke gereja, atau ke tempat lain yang lebih penting.

Tentu, lembu emas, teknologi, uang, hanyalah benda biasa. Sifatnya netral, tidak punya kuasa apapun. Namun yang terjadi manusialah yang menempatkannya melebihi yang seharusnya, yang semestinya.

Karena itu, yang diperlukan bukanlah menjadikan manusia yang ANTI TEKNOLOGI… *ketinggalan juga kalau kita menjadi ANTI* orang udah tau berita A, kita masih cengo.. bengong..  –cerita bb grup info kedukaan- Penting dan Cepat!

Tentu = Bukan anti teknologi, namun kita perlu mengembangkan diri menjadi manusia yang kritis dan sadar teknologi. Disinilah tak bisa diabaikan peran keluarga untuk membekali setiap anggotanya untuk tetap menggunakan teknologi sebagai alat bantu.

Apa yang bisa dilakukan? Apa langkah konkret yang perlu kita upayakan supaya kita mengembalikan teknologi pada fungsi yang seharusnya dan semestinya?

Salah satu yang dapat diupayakan adalah dg mengadakan pembatasan penggunaan teknologi. Membuat semacam ‘daerah terlarang bagi gadget. Misalnya tidak menggunakan gadget di meja makan, atau tempat tidur.

Contoh lain : ini pernah diusulkan oleh tim pustaka familia = yaitu melakukan diet Televisi. Diet-diet teknologi memang diperlukan, karena tanpa itu pemakaiannya dapat membuat kebablasan.

 
Closing!







Tidak ada komentar:

Posting Komentar