Kamis, 31 Juli 2014

Rivalitas vs Solidaritas



Renungan Warta 13 Juli 2014


Rivalitas vs Solidaritas


Bulan Juni dan Juli tahun ini, kita mengalami 2 "event" besar; (i) yang satu berkaitan dengan pesta sepakbola sejagad; dan (ii) yang satunya berkaitan dengan pesta demokrasi pemilihan Presiden Republik Indonesia. Dari kedua event besar ini, penulis mendapati 2 hasil yang berbeda yang cocok untuk mengilustrasikan tema hari ini: Rivalitas vs Solidaritas.

Pesta sepakbola sejagad. Ya, itulah World Cup yang sedang ramai-ramainya. Dalam 1.5 minggu pertama, banyak orang sudah merasa kecewa karena beberapa kesebelasan dari negara favorit (Italia, Inggris, Spanyol) terpaksa harus tersingkir pada babak pertama. Semuanya ini adalah hasil semangat rivalitas yang tinggi; semuanya ingin menang dan meraih piala dunia. Negara lain harus kalah! Apakah benar seperti itu? Kalau dilihat dalam setiap permainan, semangat rivalitas itu dimulai dengan masing-masing pemain bersalaman sebelum bermain dan, setelah "bertempur" selama 90 menit, pertandingan diakhiri dengan kembali bersalaman dan bertukar kaos. Rivalitas selama 90 menit diakhiri dengan solidaritas antar pemain untuk bersalaman. 

Dalam peristiwa yang lain, pemilihan Presiden Republik Indonesia, ceritanya berbeda. Persaingan antar calon Presiden dan Wakil Presiden diawali dengan masa kampanye dan debat antar calon. Disini rivalitas antar calon untuk memenangi pemilu tahun ini sangat dimaklumi dan hal ini membuat setiap calon berupaya untuk memberikan yang terbaik. Akan tetapi, rivalitas murni yang tidak disertai dengan solidaritas akhirnya menimbulkan rasa mau menang sendiri, menghalalkan segala cara untuk menang dan mencari cara untuk menjatuhkan saingannya. Kampanye hitam, politik uang, dan segala hal dicari dan dipakai hanya supaya bisa menang. Rivalitas diatas solidaritas.

Pada cerita hari ini, Yakub dengan semangat rivalitasnya ingin merebut hak kesulungan dari kakaknya Esau. Semangat rivalitas ini juga diperparah oleh kondisi dimana Ishak, bapa dari Esau dan Yakub yang berhak memberikan hak kesulungan ternyata lebih mengasihi Esau. Alhasil, segala cara coba dicari oleh Yakub untuk dapat merebut hak kesulungan. Akhirnya didapatinya sebuah kesempatan saat Esau sangat lapar dan lelah dari padang dan mereka saling bertukar: hak kesulungan direbut Yakub dan Esau menerima semangkuk sup merah dan roti! Apakah ini hanya karena kesalahan Esau yang tidak menghargai hak kesulungan? Tidak! Yakub juga bersalah karena, dengan semangat rivalitasnya, ia menghalalkan segala cara dan mengorbankan solidaritasnya pada saat melihat kakaknya Esau sedang kelaparan dan kelelahan dan menggunakan kesempatan itu untuk "menjatuhkan" Esau dengan merebut hak kesulungannya. Hal ini menimbulkan konsekuensi yang besar yang akhirnya membuat ketidakharmonisan antara Esau dan Yakub untuk waktu yang cukup lama.

Semangat rivalitas bukan hal yang buruk. Tanpa rivalitas, manusia tidak terpacu untuk memberikan yang terbaik dari dirinya. Bayangkan pertandingan sepakbola dimana semua pemain mau mengalah! Hasilnya adalah sepakbola "gajah", yang tidak menarik sama sekali. Bagaimana kita dapat mengontrol diri dan mengimbangi rivalitas dengan solidaritas? Dalam bacaan Roma 8:1-11 dan Matius 13:1-23, hidup dalam roh dan menjadikan hati kita menjadi tanah yang subur untuk Firman Tuhan adalah satu-satunya cara agar kita tidak lupa diri, termasuk lupa diri terhadap solidaritas. Indikator yang kita bisa rasakan adalah kalau kita cenderung mau menang sendiri dan menghalalkan segara cara, termasuk menjatuhkan orang lain, inilah dalah tanda-tanda orang yang lupa akan solidaritas.

 
Selamat berjuang dalam hidup dan memberikan yang terbaik dalam setiap kesempatan, inilah semangat rivalitas. Tempatkan Tuhan diatas rivalitas dengan memperhatikan apakah semangat rivalitas kita memberikan hasil yang positif dan kebaikan buat orang lain, inilah semangat solidaritas.
Tuhan memberkati. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar