Kamis, 01 Desember 2011


Persekutuan Doa Wilayah Selasa, 1 November 2011
“Mengapa Harus Memaksa Tuhan?”
(Matius 6:7-8)

Persiapan (saat teduh pribadi-dapat diiringi instrument musik dari pemusik)


Pengantar :
Selamat malam umat yang dikasihi Tuhan, waktu bergulir begitu cepat hingga tak terasa hari ini kita memasuki Bulan November 2011. Kita bersyukur kepada Tuhan, oleh karena kasih setia-Nya kita dapat berkumpul kembali untuk mengikuti Persekutuan Doa Wilayah hari ini. Untuk memulai persekutuan malam ini, marilah kita memuji Tuhan dari PKJ 242:1-2 “Seindah Siang Disinari Terang”.

Doa Pembukaan (dipp. oleh pemimpin PDW)

Tema kita hari ini, “Mengapa harus Memaksa Tuhan?” Tanpa disadari, dalam doa yang kita panjatkan kita pernah bahkan kerapkali “memaksa Tuhan”, terutama ketika apa yang kita harapkan tidak terpenuhi. Melalui PDW malam ini, kita diingatkan pentingnya memiliki keyakinan dan pengharapan bahwa Tuhan akan senantiasa memberikan yang terbaik, karena Ia mengetahui apa yang kita butuhkan. Marilah kita nyanyikan KJ 460:1-2 “Jika Jiwaku Berdoa”, kita hayati setiap syair dalam lagu ini.

Doa sebelum Firman Tuhan
Bapa yang rahmani, dalam kegelapan jasmani mata kami tidak bisa melihat.
Dalam kegelapan rohani, hati kami tidak bisa melihat.
Akibatnya, hati tidak melihat faedah Firman-Mu,
sehingga kami membacanya tanpa minat
Atau berminat namun tak melihat manfaat

Terangilah hati kami dengan Roh-Mu
Supaya kami membaca Firman dengan teliti dan memahami
Lalu melaksanakan Firman Tuhan dalam hidup kami hari lepas hari,
Karena firman-Mu adalah pelita bagi kaki, dan terang bagi jalan kami.

Inilah doa kami yang kami panjatkan di dalam nama Tuhan kami Yesus Kristus,
Sang Jurus’lamat yang hidup, kami telah berdoa,
 AMIN


Pembacaan Firman Tuhan Matius 6:7-8

Renungan

Kehidupan umat Kristiani tidak dapat dilepaskan dari doa. Apa arti doa? Doa merupakan nafas hidup bagi kita. Ibarat nafas, doa adalah sesuatu yang sangat vital, menjadi bagian yang integral dalam kehidupan orang percaya. Sebuah penelitian pernah menyatakan bahwa ketika kita menahan nafas di bawah 7 menit kita masih mampu bertahan. Namun ketika sudah memasuki menit ke 8 dan seterusnya, kita tidak akan mampu lagi menahan nafas, karena kita membutuhkannya.
Selain menjadi "nafas hidup, doa juga dimaknai sebagai sarana kita berkomunikasi kepada-Nya. Dengan berkomunikasi kita bisa mengungkapkan segala hal yang kita alami, rasakan, gumulkan, karena kita meyakini ada kekuatan dan kelegaan yang Tuhan anugerahkan bagi kita. Ada sebuah film berjudul “Letters to God”, yang menceritakan bagaimana seorang anak sanggup berkomunikasi dengan Tuhan melalui pengalaman dalam hidupnya. Film “Letters to God” dibuat berdasarkan kisah nyata seorang yang berasal dari Nashville, bernama Tyler Doughtie. Sejak usia 8 tahun, Tyler mulai bergumul dengan kanker otak di kepalanya.
Namun ada sebuah hal menarik dalam kisahnya yang menjadi inspirasi bagi kita semua. Semasa sakit, Tyler menulis surat kepada Tuhan. Setiap surat dimasukkannya ke dalam amplop, ia bubuhi perangko secukupnya, dan ia tulis di depan amplop itu- Untuk: Tuhan. Dari: Tyler.
Dalam isi suratnya, Tyler seperti sedang mencurahkan isi hati kepada sahabat dekatnya, yang diyakini akan membaca dan membalasnya. Ia menuliskan perasaan, pikiran, kekuatiran, dan harapannya, dan ini dilakukannya setiap hari, tanpa jemu. Semakin banyaknya intensitas Tyler menulis surat, ia pun semakin mengenal dan akrab dengan Tuhan. Ia memiliki komunikasi dengan Tuhan, kendati pergumulan akan penyakitnya bukanlah hal yang mudah. Akan tetapi ia yakin bahwa ia senantiasa ada dalam pemeliharaan dan kasih Tuhan.
Kisah Tyler hendak menegaskan kembali bahwa doa merupakan sarana komunikasi kita dengan Tuhan. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apa isi komunikasi tersebut? Kalau boleh jujur, sungguh amat disayangkan seringkali permohonan demi permohonanlah yang kita minta kepada Tuhan. Doa kita ibarat “daftar belanjaan”, kita mohon A, B, C dan seterusnya. Lebih ironis ternyata permohonan itu disertai dengan “paksaan” kita kepada Tuhan. Kita seolah memaksa agar Tuhan mengabulkan setiap permohonan kita dengan segera.
Ketika kemudian kita merasa bahwa permohonan kita tidak dikabulkan oleh Tuhan (karena kita menggunakan sudut pandang dan “kehendak kita” sendiri), maka kekecewaan bahkan amarah kepada Tuhan tidak dapat dibendung lagi. Tak jarang ada pula yang malah menjadi undur iman setelahnya. Sebagai manusia yang adalah ciptaan-Nya, kerapkali kita lupa bahwa Allah kita adalah Allah yang Maha Kuasa, yang memelihara dan memberikan yang terbaik bagi kita menurut waktu, cara, dan kehendak-Nya, yang terkadang tidak dipahami oleh manusia.
Firman Tuhan melalui Injil Matius pasal ke-6 memberikan pembelajaran bagi kita akan hal ini. Mat 6:8 menyatakan sebuah pernyataan yang amat tegas: “…karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu minta kepada-Nya”. Ayat ini berbicara tentang adanya JAMINAN bahwa Sang Bapa mengetahui kebutuhan kita pribadi lepas pribadi, bahkan sebelum kita meminta kepada-Nya. Oleh karenanya kita diajak untuk memiliki keteguhan/keyakinan iman bahwa Ia pasti memberi yang terbaik kepada kita. Satu kunci utama yang tidak bisa ditinggalkan adalah “IMAN” kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Salah kaprah jika ada orang yang beranggapan bahwa dalam doa, yang diutamakan adalah indahnya dan banyaknya kata-kata yang digunakan, padahal tidak demikian (bnd. ayat ke-7). Iman kepada Tuhanlah yang utama. Iman berarti mempercayakan diri, berserah penuh, hanya kepada Dia Tuhan Yesus Kristus. Iman inilah yang kemudian menolong kita untuk terus bersabar dalam menanti jawaban atas setiap doa yang kita panjatkan.
“Mengapa harus memaksa Tuhan”, kalau kita yakin dan beriman bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi kita indah dan tepat pada waktunya? Inilah refleksi kita malam ini. Tuhan menolong dan menguatkan kita. AMIN.
Sambutan atas Firman Tuhan PKJ 255 “Firman-Mu Kupegang Selalu”

Sharing (dibatasi 2-3 orang saja)

Pujian pengantar doa syafaat KJ 457:1-3 “Ya Tuhan Tiap Jam”

Doa syafaat
Pokok-pokok doa (dipilih 3 pendoa syafaat – diselingi refrein lagu “Ya Tuhan Tiap Jam”)

Refrein:
Setiap jam ya Tuhan
Dikau Kau kuperlukan
Ku datang Jurus’lamat berkatilah

-          Berdoa bagi kehidupan doa setiap umat (refleksi secara pribadi)

-          Berdoa bagi keluarga : hubungan suami-istri, pendidikan anak-anak, hubungan orangtua dan anak,
pekerjaan, juga pergaulan anak-anak.

-          Berdoa bagi gereja : program pelayanan yang dilakukan, berdoa bagi Pdt, Pnt, Badan Pelayanan, dan
 setiap umat Tuhan yang menjadi bagian dari gereja, berdoa juga bagi Panitia  
 Pemilihan Penatua dan Panitia Natal dalam setiap acara yang dipersiapkan.

-          Berdoa bagi umat yang sakit

-          Berdoa bagi Bangsa dan Negara Indonesia : Presiden dan pejabat negara lainnya, kondisi keamanan
dan kerukunan negara, upaya penegakkan hukum, pemberantasan korupsi, pengentasan kemiskinan.

-          Berdoa bagi korban bencana alam yang masih ditemui di beberapa daerah.

(Pemimpin PDW menutup dengan mengajak umat menaikkan Doa Bapa Kami bersama-sama, yang diakhiri dengan lagu “Bapa T’rima Kasih”).









Persekutuan Doa Wilayah Selesai
Tuhan memberkati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar